Industri-Asuransi-Menggeliat-Seiring-Kebangkitan-Fintech

Industri Asuransi Menggeliat Seiring Kebangkitan Fintech

Dewasa ini perkembangan teknologi semakin memacu umat manusia untuk berpikir secara inovatif. Perkembangan telepon pintar atau android yang baru beberapa tahun belakangan ini disambut dengan penciptaan aplikasi-aplikasi modern yang memudahkan kehidupan masyarakat. Kini setiap orang bisa memenuhi kebutuhan mereka dari bangun tidur sampai akan tidur lagi, karena keputusan itu sudah ada di tangan mereka. Melalui aplikasi yang melayani angkutan, pengiriman, berita, komunikasi, dan lain-lain, membuat kita semua merasakan manfaat dari inovasi yang mengikuti perkembangan teknologi tersebut.

Tentu saja perkembangan tersebut turut mempengaruhi industri jasa keuangan. Satu atau dua tahun yang lalu kita sering mendengar banyak orang yang mengalami kesulitan memulai usaha karena terbentur dengan masalah permodalan. Kurangnya akses terhadap lembaga peminjaman, dalam hal ini bank atau koperasi, membuat iklim berwirausaha sangat kurang di negara kita. Pihak bank sendiri tidak ingin ceroboh dalam mendistribusikan dana, karena mereka bukan lembaga sosial.

Namun saat ini, kesulitan modal bukan alasan yang signifikan untuk memulai usaha. Munculnya perusahaan rintisan teknologi keuangan atau startup financial technology yang memanfaatkan aplikasi di telepon pintar, menciptakan platform layanan peminjaman atau peer to peer lending. Kini setiap orang, dari pelajar sampai petani, bisa mendapatkan pinjaman, dengan hanya bermodalkan gadget. Jauh lebih mudah dari pinjaman lewat bank yang biasanya membutuhkan syarat-syarat yang cukup banyak dan memakan waktu yang cukup lama.

Kesuksesan layanan keuangan fintech tersebut menginsiprasi pihak industri asuransi. Sekarang mereka mencoba memasarkan produk asuransi mereka melaui fintech. Dengan kata lain, produk asuransi yang mereka tawarkan bisa diakses melalui telepon genggam, yang berupa platform yang sangat menarik dan modern. Jadi kini mereka tidak hanya mengandalkan pemasaran hanya melalui jalur distribusi bancassurance atau para agen.

Sejak satu dua tahun belakangan ini, sejumlah perusahaan asuransi mulai mempelajari metode kerja dan menjajaki kemungkinan kerja sama dengan fintech sebagai sarana pemasaran atau jalur distribusi produk asuransi. Langkah tersebut diambil karena beberapa perusahaan fintech tersebut juga telah menyediakan ruang atau menyediakan layanan kurasi untuk sejumlah produk asuransi melalui platform layanan keuangan. Bahkan di platform tersebut, fintech juga mengelompokan produk-produk asuransi guna melindungi kedua belah pihak (investor dan peminjam) sesuai kebutuhan.

Salah satunya adalah di website cermati.com. Website ini menyediakan layanan informasi terkait jasa keuangan yang banyak ditawarkan di masyarakat, mulai dari produk bank seperti kartu kredit hingga produk asuransi. Website tersebut memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi terkait perbankan dan terutama produk asuransi yang diinginkan, sehingga mereka bisa mengetahui dengan pasti tingkat keuntungan dan resiko dari masing-masing produk tersebut. 

Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Togar Pasaribu menjelaskan bahwasannya saat ini kanal (jalur) distribusi asuransi jiwa memiliki beberapa jenis, antara lain agen, bancassurance, telemarketing, direct marketing hingga employee benefit. Togar menjelaskan, perusahaan asuransi jiwa di Indonesia sebenarnya tidak ketinggalan dalam hal penggunaan teknologi. Mereka sudah cukup lama menggunakannya. Perusahaan asuransi jiwa menggunakan asuransi untuk database pemegang polis, ilustrasi produk, website hingga supply chain.

Dia juga menjelaskan, untuk perusahaan asuransi jiwa yang menjual produk unit link, penggunaan teknologi menjadi syarat utama, karena harus menghitung NAB dan mengumumkan hasilnya di website dan di koran setiap hari. Jika proses tersebut tidak menggunakan teknologi, maka akan merepotkan pihak perusahaan dan nasabah.

OJK Siap Mengakomodir
Kerja sama yang inovatif antara pihak asuransi dan fintech tersebut disambut baik oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), selaku pihak yang mengatur regulasi transaksi keuangan di Indonesia. Pihak OJK juga telah mencoba untuk mengakomodasi pemasaran produk asuransi yang memanfaatkan kerja sama dengan pihak ketiga atau provider melalui ketersediaan aplikasi fintech.

Hal tersebut disampaikan oleh Deputi Komisioner Industri Keuangan Non Bank (IKNB) OJK Eddy Setiadi. Eddy mengatakan, berdasarkan penelitian industri asuransi juga tidak mau ketinggalan dan sudah mulai berinovasi dalam memasarkan produk asuransinya dengan memanfaatkan teknologi informasi melalui internet maupun fintech. Eddy melanjutkan, pada dasarnya OJK akan mencoba untuk mengkomodir cara pemasaran tersebut dengan menyusun regulasi yang dapat diterapkan sesuai dengan kondisi pasar yang ada pada saat ini.

OJK sedang mengkaji dan merumuskan kebijakan yang bisa diterapkan secara lebih lanjut mengenai fintech baik dari sisi peraturan, infrastruktur, keamanan, mekanisme bisnis, dan berbagai hal lainnya, termasuk membandingkan atau mempelajari pengalaman yang terjadi di negara-negara lain. Eddy juga mengatakan bahwasanya pengaturan pemasaran produk asuransi melalui fintech akan mempertimbangkan berbagai hal, khususnya pada aspek informasi mengenai produk asuransi bagi konsumen, kecukupan implementasi mengenai program mengenal nasabah, penerapan manajemen risiko konsumen, dan pengawasan mengenai komisi untuk produk yang sudah diatur melalui regulasi.

Regulasi pemasaran produk asuransi melalui platform milik fintech rencananya akan memuat antara lain, pelaporan ke OJK mengenai kerja sama dengan provider, kandungan informasi minimal yang harus disediakan di portal, dan berbagai produk asuransi yang dapat dijual melalui provider online tersebut.

Disamping itu, regulasi yang dikeluarkan oleh OJK tersebut juga akan memuat pengaturan mengenai manajemen risiko untuk akseptasi pertanggungan yang diperoleh dari fintech, kerahasiaan data konsumen dan tanggung jawab yang jelas antara provider dengan perusahaan asuransi, serta pengaturan komisi yang dapat diperoleh oleh pihak provider.

Bagaimana kami dapat membantu Anda?

SMART Legal Consulting adalah Konsultan Jasa Legal Korporasi. Kami memiliki pengalaman dalam membantu Klien dari segi hukum pada saat Klien kami berinvestasi di Indonesia. Mulai dari pendirian PT PMA, hingga pengurusan izin-izin usaha.

Silahkan menghubungi SMART untuk mengatur waktu pertemuan anda dengan kami:

Email : info@smartcolaw.com
Hotline/Whatsapp : +62821-1234-1235
Office : +6221-80674920

Follow by Email
Facebook
Google+
https://blog.smartcolaw.com/industri-asuransi-menggeliat-seiring-kebangkitan-fintech/
Twitter
LINKEDIN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*