Legal Due Diligence Meneropong Risiko Hukum Berinvestasi

Hampir saja klien kami tertipu. Ternyata, pihak yang ditemui oleh klien kami bukan lagi menjadi pemegang saham dalam perusahaan tersebut.

Bagi sebagian pebisnis, salah memilih rekan bisnis seperti mimpi buruk. Tak seperti mimpi buruk lainnya, sayangnya mimpi ini tidak bisa diakhiri hanya dengan melanjutkan tidur dan bangun di pagi harinya. Tidak hanya satu klien yang mengeluhkan hal ini. Berbeda penyanyi, namun lagunya tetap sama, mereka mengaku salah memilih partner bisnis.

Jangan sampai “diakali” partner bisnis menjadi akhir dari impian kita yang sudah menyita tenaga, waktu, emosi dan biaya yang tidak sedikit. “Mencari partner dalam berbisnis itu sama seperti pernikahan, Mbak. Kalau tidak cocok, ya akhirnya pernikahan bisa saja terus berlangsung. Tetapi babak belur. Kalau tidak hati-hati, habis diakali terus,” keluh salah seorang Klien kami.

Kenali Dulu Karakter Calon Partner Bisnis Anda

Menurut kami, mengenali karakter dan latar belakang itu tidak cuma berlaku kalau kita ingin mencari pasangan hidup. Bagi beberapa pengusaha, bisnis itu laksana nafas dalam kehidupannya. Tak pelak, penting untuk mencari partner bisnis yang sejalan, satu visi, punya itikad baik untuk melangkah bersama dan maju bersama. Bibit bebet bobot. Nah, disnilah peranan dari Legal Due Diligence (LDD) untuk screening calon partner bisnis dari segi hukum.

Seperti misalnya dalam bisnis tambang. Pelaku bisnis ini bisa dikatakan banyak sekali, apalagi ketika sempat menjadi primadona beberapa tahun belakangan. Mulai dari pengusaha kelas teri sampai kelas kakap. Perusahaan-perusahaan besar yang sedang ekspansi sedang haus mencari wilayah-wilayah Izin Usaha Pertambangan (“IUP“) sebanyak-banyaknya untuk bisa memenuhi target bisnis. Kalau tidak hati-hati memilah dan memilih, salah salah Anda bisa tertipu oleh makelar IUP atau tertipu mentah-mentah oleh oknum yang bukan merupakan pemegang saham dalam perusahaan yang ditawarkan pada Anda.

Salah satu Klien kami saat itu merupakan perusahaan Korea yang menjajaki bisnis tambang batubara di Indonesia. Memang bisa terbilang seumur jagung perusahaannya di Indonesia. Hanya saja perusahaan ini memiliki back-up pendanaan yang kuat. Selain itu, terdapat kebijakan dari pemerintahan di Korea untuk memperluas investasi penduduknya hingga se- Asia. Termasuk Indonesia sebagai sasaran utama.

ldd-blog-smart

Singkat cerita, perusahaan Korea ini tergiur dengan perusahaan tambang batubara yang memiliki wilayah IUP di suatu daerah di Sumatera Barat. Daerah tersebut memang terkenal sebagai surganya batubara. Bagaimana tidak, nilai kandungan batubara di wilayah tersebut berada minimal 7000 kcal.

Awalnya manajemen perusahaan ini mendatangi kami dan meminta bantuan untuk membantu proses akuisisinya. Bagaimana caranya supaya bisa segera melakukan proses akusisi dan bisa segera menjadi pemegang saham mayoritas pada perusahaan target.

Wah, wah, wah, tunggu dulu. Terlalu cepat kalau ingin segera take over perusahaan tersebut. Sangat menggiurkan jika menilik dari potensi nilai ekonomis yang sangat tinggi di wilayah tersebut.

“Iya, jika ternyata rata-rata kandungan kalori di sana memang tinggi.”

“Iya, jika ternyata reserve batubara tersebut mencukupi untuk jangka panjang.”

Tetapi, terlebih dari itu, ada hal yang terpenting.

“Iya, kalau klien kami bertransaksi dengan pemilik yang sesungguhnya, sang pemegang saham dari perusahaan pemegang IUP tersebut.”

Untuk itu, kami sarankan Klien kami untuk memeriksa terlebih dahulu seluruh aspek hukum perusahaan target ini. Sehingga, perlu diperhitungkan waktu untuk proses Legal Due Diligence terlebih dahulu sebelum masuk ke transaksi. Tujuannya untuk memberikan proteksi dari investasi  yang akan ditanamkan. Karena begitu banyak risiko hukum yang harus diidentifikasi, diukur dan dimitigasi sedari dini.

Awalnya memang mereka keberatan, apalagi dari pihak counterpart (red. perusahaan target). Tindakan lawyer dinilai lambat dan tidak mengerti esensi bisnis, pokoknya dianggap tidak business friendly. Buat mereka time is of the essence, so seal the deal!

Namun, perlahan kami sampaikan concern kami kepada klien secara internal. Setelah penjelasan kami bisa diterima, mereka meminta agar proses LDD dirampungkan dalam waktu sebulan sejak tanggal kesepakatan pengikatan jual beli saham perusahaan target. Okay, kami pikir tidak masalah. Waktu ini bisa kami gunakan sebaik mungkin untuk mencari tahu bibit bebet bobot perusahaan target.

Demikian tips meneropong risiko berinvestasi, konsultasi hukum bisnis silahkan menghubungi SMART untuk mengatur waktu pertemuan anda dengan kami:

E: info@smartcolaw.com

H: +62821-1234-1235

O: +6221- 2278-3385

 

 

Follow by Email
Facebook
Google+
http://blog.smartcolaw.com/legal-due-diligence-meneropong-risiko-hukum-berinvestasi/
Twitter
LINKEDIN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*