Buy Back Saham di Tengah Ancaman Anjloknya Harga Saham

“Faktor utama alasan buy back adalah untuk menjaga nilai nominal dari total modal disetor dan ditempatkan, jika sebagian dari modal tersebut tidak likuid di pasar dalam jangka waktu tertentu.”

Dalam hukum perusahaan tentunya tidak asing dengan pembelian kembali saham atau dikenal dengan buy-back saham. Sebut saja sejumlah emiten dari sektor plantation atau perkebunan seperti PT BW Plantation Tbk, PT PP London Sumatera Tbk, dan PT Salim Ivomas Pratama Tbk yang melakukan buy back saham.

Ketiga emiten ini bergerak di bidang crude palm oil atau lebih sering dikenal dengan CPO. Walaupun ada kecenderungan harga-harga saham menurun di bursa, ketiga emiten ini berkeyakinan bahwa secara fundamental bisnis CPO masih solid.

Namun, tindakan buy back ini dianggap oleh PT Indo Premier Securities sebagai isyarat bahwa harga saham CPO saat ini masih murah. Selain itu, juga tidak ada katalis yang bisa mendongkrak harga CPO.

Lalu, bagaimanakah yang dimaksud dengan buy back saham dalam undang-undang? Bilamana hal tersebut boleh dilakukan? Apakah buy back saham hanya bisa dilakukan oleh perusahaan terbuka? Ataukah juga bisa dilaksanakan oleh perusahaan tertutup?

BUYBACK-blog-smart

Menyingkap Motif Buy-Back

Pembelian kembali saham ini nyatanya tidak saja dilakukan oleh perusahaan-perusahaan terbuka seperti emiten-emiten di atas. Tetapi juga bisa dilakukan oleh perusahaan tertutup. Yang menjadi soal, apa maksud dan tujuan dari buy-back tersebut? Apa pengaruhnya dengan saham perusahaan/emiten secara keseluruhan?

Faktor utama alasan buy back adalah untuk menjaga nilai nominal dari total modal disetor dan ditempatkan, jika sebagian dari modal tersebut tidak likuid di pasar dalam jangka waktu tertentu. Misalnya saja dengan yang dilakukan oleh emiten-emiten di atas.

Ilustrasi mudahnya, jika awalnya di pasar terdapat 100 juta saham dengan nilai nominal per saham adalah sepuluh ribu rupiah. Sedangkan yang berhasil dijual di pasar hanya sebesar 70 juta saham. Sisanya, tidak dimiliki oleh siapapun dalam jangka waktu tertentu. Kondisi ini bisa menyebabkan turunnya nilai nominal saham secara keseluruhan dalam jangka panjang. Untuk mengantisipasi ini, maka perusahaan bisa menarik kembali saham.

Prinsip ekonomi lah yang berjalan, permintaan tetap namun penawaran berkurang. Maka, harga bisa naik atau setidaknya perusahaan bisa menahan kemungkinan merosotnya harga saham. Jadi, akibat buy back ini bisa sebagai strategi mempertahankan likuiditas perusahaan atau bahkan meningkatkannya.

Misalnya saja, apabila harga saham di pasar stagnan pada harga tertentu dalam jangka waktu tertentu. Kemudian, pemegang saham terbesar dalam perusahaan tersebut melakukan buy back saham. Dengan demikian, hal ini memberikan efek psikologis bahwa pemegang saham tersebut merupakan pihak yang bonafide dan bertanggung jawab terhadap progresi perusahaan.

Hal ini memicu investor lainnya untuk akhirnya bergabung dan membeli saham tersebut. Seperti yang sering dilakukan oleh pengusaha Hari Tanoesoedibjo yang kerap membeli kembali sahamnya dalam MNC Group. Kondisi ini berhasil membuat perusahaannya tertahan dari merosotnya posisi perusahaannya dalam bursa. Bukan hanya itu, ia berhasil memposisikan perusahaannya naik beberapa tingkatan dari posisi di bursa. Yup, dengan buy back tersebut.

Namun, buy back saham hanya salah satu strategi untuk pertahanan likuiditas. Jelas, efek buy back ini belum tentu atau tidak dapat secara pasti dapat kita jadikan sebagai strategi menaikkan likuiditas saham.

Pelaksanaan Buy-Back Saham

Pasal 37 Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (“UUPT“) mengizinkan perusahaan untuk membeli kembali saham yang telah dikeluarkan melalui persetujuan RUPS. Dalam hal ini, salah satu alasan perusahaan melakukan buy back saham adalah untuk pengurangan modal. Pengurangan modal ini tidak dapat dilakukan kecuali dengan saham tersebut ditarik kembali. Untuk itulah ada metode pembelian kembali saham. Namun, kondisi pembelian kembali saham ini dibatasi oleh ketentuan-ketentuan sebagai berikut:

1. Pembelian kembali saham tersebut tidak menyebabkan kekayaan bersih perusahaan menjadi lebih kecil daripada jumlah modal yang      ditempatkan ditambah cadangan wajib yang telah disisihkan.

Kekayaan bersih ≠ ≤ ∑ (modal ditempatkan + cadangan wajib yang telah disisihkan)

Kekayaan bersih di sini adalah seluruh harta perusahaan yang telah dikurangi seluruh kewajiban perusahaan sesuai dengan laporan keuangan terbaru yang disahkan oleh RUPS dalam 6 (enam) bulan terakhir.

2. Selain ketentuan di atas, besaran persentase buy-back saham ini juga dibatasi. Pasal 37 (1) (b) UUPT berbunyi sebagai berikut:

Jumlah nilai nominal seluruh saham yang dibeli kembali oleh perusahaan dan gadai saham atau jaminan atas saham yang dipegang oleh perusahaan sendiri dan/atau perusahaan lain yang sahamnya secara langsung atau tidak langsung dimiliki oleh perusahaan, tidak melebihi 10% dari jumlah modal yang ditempatkan dalam perusahaan, kecuali diatur lain dalam peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal.

Bahasa undang-undang memang agak rumit. Baiklah, mari kita coba uraikan unsur-unsur penghitungnya:

 1. Nilai nominal seluruh saham yang di-buy back
 2. Gadai saham/jaminan atas saham dipegang oleh perusahaan sendiri
 3. Gadai saham/jaminan atas saham yang dipegang oleh afiliasi dari perusahaan
  _____________________________________________________________________ +
  Total = ≠ ≥ 10% x ∑ modal ditempatkan dalam perusahaan

Dengan kata lain, jumlah komponen No. 1-3 di atas tadi tidak boleh melebihi 10% dari jumlah modal ditempatkan dalam perusahaan, kecuali diatur lain dalam ranah pasar modal.

Pembelian kembali saham ini harus sesuai dengan kondisi di atas. Jika bertentangan, maka pembelian kembali saham ini menjadi batal demi hukum. Tentunya ketika buy-back saham menjadi batal karena hukum, Direksilah yang bertanggung jawab secaa tanggung renteng atas kerugian yang diderita pemegang saham yang beritikad baik tersebut.

Selain itu, buy-back saham ini juga memiliki jangka waktu yaitu saham buy-back hanya bisa dikuasai perusahaan paling lama 3 (tiga) tahun. Dalam kurun waktu inilah, perusahaan memiliki waktu untuk menentukan apakah saham tersebut akan dijual atau ditarik kembali dengan cara pengurangan modal.

Buy back saham bagi Perusahaan terbuka

Untuk perusahaan terbuka, buy back saham diatur secara lebih terperinci dengan mengacu pada Peraturan Bapepam-LK Nomor IX.B.2 tentang Pembelian Kembali Saham yang Dikeluarkan oleh Emiten atau Perusahaan Publik.

Pada dasarnya, buy back saham pada perusahaan terbuka bisa dilakukan dengan memperhatikan Pasal 37 UUPT di atas, juga Pasal 39 UUPT, asalkan tidak bertentangan dengan ketentuan yang berlaku di pasar modal.

Namun, buy back saham ini juga bisa dilakukan dalam konteks apabila terdapat pemegang saham yang tidak setuju dengan tindakan korporasi dari perusahaan apabila para pemegang saham ini merasa dirugikan. Dalam hal inilah perusahaan diperbolehkan untuk membeli kembali saham tersebut. Tindakan korporasi tersebut sebagaimana yang disebutkan dalam Pasal 62 UUPT, yaitu diantaranya:

  1. Perubahan Anggaran Dasar;
  2. Pengalihan atau penjaminan kekayaan perusahaan yang mempunyai nilai lebih dari 50% (lima puluh persen) kekayaan bersih perusahaan; atau
  3. Penggabungan, peleburan, pengambilalihan atau pemisahan.

Selain memperhatikan dan mematuhi tata cara terkait dengan RUPS, penentuan harga, besaran persentase dan jangka waktu buy-back saham, perusahaan terbuka juga diwajibkan untuk mengumumkannya kepada masyarakat dan menyampaikan keterbukaan informasi ini kepada Bapepam-LK.

Jadi, lakukanlah buy-back saham di saat yang tepat dan apabila benar-benar dibutuhkan.

Niken Nydia Nathania

Silahkan menghubungi SMART untuk mengatur waktu pertemuan anda dengan kami:

E: info@smartcolaw.com

H: +62821-1234-1235

O: +6221- 2278-3385

Follow by Email
Facebook
Google+
http://blog.smartcolaw.com/buy-back-saham-di-tengah-ancaman-anjloknya-harga-saham/
Twitter
LINKEDIN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*